› Panduan Tugas Akhir
Perbedaan Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Mixed Method
Tim Editor Metodologi Jokify · Terbit · Diperbarui

Perbedaan utama penelitian kuantitatif dan kualitatif terletak pada tujuannya: penelitian kuantitatif mengukur variabel dan menguji hipotesis dengan data angka, sedangkan penelitian kualitatif menggali makna, proses, dan konteks melalui wawancara, observasi, dan dokumen dari informan yang dipilih secara sengaja. Mixed method (metode campuran) menggabungkan keduanya dalam satu desain yang terencana. Pilihan pendekatan penelitian ini ditentukan oleh rumusan masalah Anda, dan konsekuensinya terasa di setiap bab skripsi.
Tabel Perbedaan Kuantitatif, Kualitatif, dan Campuran
| Aspek | Kuantitatif | Kualitatif | Mixed method |
|---|---|---|---|
| Tujuan | Mengukur dan menguji hipotesis | Memahami makna, proses, dan konteks | Mengukur sekaligus memahami |
| Landasan filosofis | (Post)positivisme | Konstruktivisme atau interpretivisme | Pragmatisme |
| Bentuk pertanyaan | Tertutup: "apakah", "seberapa besar" | Terbuka: "bagaimana", "mengapa" | Keduanya, dengan urutan yang dirancang |
| Data | Angka | Kata, gambar, dokumen | Keduanya |
| Sumber data | Sampel, idealnya diambil acak | Informan yang dipilih secara purposive | Sampel dan informan |
| Jumlah sumber data | Dihitung dengan power analysis atau rumus | Ditentukan oleh saturasi data | Ditentukan per fase |
| Instrumen | Kuesioner, tes, data sekunder | Peneliti, dibantu pedoman wawancara dan observasi | Keduanya |
| Analisis | Statistik | Kondensasi data, analisis tematik, naratif | Integrasi kedua hasil |
| Kriteria mutu | Validitas dan reliabilitas | Kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, konfirmabilitas | Kriteria masing-masing fase |
| Hasil | Generalisasi ke populasi (bila sampel acak) | Pemahaman mendalam yang dapat ditransfer ke konteks serupa | Gambaran luas sekaligus mendalam |
| Arah logika | Deduktif | Induktif | Deduktif dan induktif bergantian |
Landasan filosofis pada tabel mengikuti Creswell dan Creswell (2018). Sugiyono (2019), yang banyak dipakai di Indonesia, menyebut landasan penelitian kualitatif sebagai "postpositivisme" dalam arti yang berbeda; jika pembimbing Anda memakai istilah itu, sebutkan rujukannya agar tidak terjadi salah paham.
Ciri dan Desain Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif meneliti populasi atau sampel tertentu, mengumpulkan data dengan instrumen terstandar, dan menganalisisnya secara statistik untuk menguji hipotesis yang sudah ditetapkan sebelum data dikumpulkan (Sugiyono, 2019). Karena itu, instrumen harus valid dan reliabel, dan peneliti berusaha mengendalikan variabel pengganggu.
Desain yang paling sering dipakai di skripsi:
- Survei potong lintang (cross-sectional): data dikumpulkan satu kali dari banyak responden untuk menggambarkan kondisi atau menguji hubungan antarvariabel.
- Eksperimen dan kuasi-eksperimen: peneliti memberi perlakuan kepada kelompok eksperimen dan membandingkannya dengan kelompok kontrol; eksperimen acak paling kuat untuk menguji sebab-akibat, sedangkan kuasi-eksperimen dipakai bila pengacakan tidak mungkin.
- Korelasional: mengukur kekuatan dan arah hubungan tanpa memanipulasi variabel apa pun.
- Kausal-komparatif (ex post facto): membandingkan kelompok yang sudah berbeda secara alami, misalnya mahasiswa yang bekerja dan yang tidak, untuk menelusuri kemungkinan penyebab perbedaannya.
Generalisasi ke populasi hanya kuat bila sampel diambil secara acak dari kerangka sampel (daftar individu atau kelompok). Banyak survei skripsi memakai purposive atau accidental sampling karena daftar seperti itu tidak tersedia, sehingga kesimpulannya perlu dibatasi pada karakteristik responden — konsekuensinya dibahas di artikel teknik sampling penelitian.
| Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|
| Hasil dapat digeneralisasi bila sampelnya acak | Kurang menangkap makna dan konteks |
| Analisis terstandar dan mudah direplikasi | Instrumen baku bisa melewatkan nuansa penting |
| Efisien untuk jumlah responden yang besar | Asumsi statistik harus dipenuhi dan diperiksa |
| Hasil ringkas disajikan dalam tabel dan grafik | Butuh penguasaan statistik dan perangkat lunaknya |
Ciri dan Jenis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif meneliti fenomena dalam kondisi alamiahnya, dengan peneliti sebagai instrumen kunci (Sugiyono, 2019). Datanya berupa transkrip wawancara, catatan observasi, dan dokumen; desainnya fleksibel dan dapat berkembang selama di lapangan. Penelitian kualitatif tidak menguji hipotesis statistik, tetapi bukan berarti tanpa dugaan sama sekali: peneliti tetap berangkat dari pertanyaan dan konsep awal, dan desain seperti grounded theory justru menghasilkan proposisi atau teori baru dari data.
Jenis yang lazim dipakai di skripsi:
- Fenomenologi: memahami pengalaman hidup partisipan, misalnya pengalaman mahasiswa difabel mengakses fasilitas kampus.
- Grounded theory: membangun teori dari data lapangan melalui pengodean dan kategorisasi yang sistematis.
- Etnografi: mempelajari budaya dan perilaku suatu kelompok melalui keterlibatan yang panjang di lapangan.
- Studi kasus: menganalisis secara mendalam satu atau beberapa kasus, seperti organisasi, program, atau peristiwa.
- Analisis wacana dan analisis isi: mengungkap pola makna, ideologi, atau representasi dalam teks dan media.
- Deskriptif kualitatif: mendeskripsikan fenomena apa adanya dengan bahasa yang dekat dengan data. Desain ini sah (Sandelowski, 2000), tetapi tetap harus menjelaskan cara memilih informan, mengumpulkan, dan menganalisis data. Bedakan dengan deskriptif kuantitatif, yang menggambarkan variabel dengan angka seperti rata-rata dan persentase.
Jumlah informan tidak dihitung dengan rumus; pengumpulan data berhenti ketika data baru tidak lagi memunculkan informasi atau kode baru (saturasi).
| Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|
| Menangkap kedalaman, nuansa, dan konteks | Tidak dapat digeneralisasi secara statistik |
| Fleksibel terhadap temuan tak terduga | Subjektivitas peneliti harus dikelola dan dilaporkan |
| Dapat menghasilkan konsep atau teori baru | Transkripsi dan analisis memakan waktu |
| Memberi ruang bagi suara partisipan | Butuh keterampilan wawancara dan observasi |
Desain Mixed Method Menurut Creswell
Mixed method menggabungkan data kuantitatif dan kualitatif secara terencana untuk menjawab pertanyaan yang tidak cukup dijawab satu pendekatan saja. Creswell dan Plano Clark (2018) membedakan tiga desain inti:
| Desain | Urutan | Cocok bila |
|---|---|---|
| Konvergen (convergent) | Data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan dalam periode yang sama, lalu hasilnya dibandingkan atau digabung | Anda ingin mengonfirmasi temuan dari dua jenis data |
| Sekuensial eksplanatori (explanatory sequential) | Kuantitatif dulu, lalu kualitatif untuk menjelaskan hasilnya | Hasil survei perlu dijelaskan "mengapa"-nya |
| Sekuensial eksploratori (exploratory sequential) | Kualitatif dulu, lalu kuantitatif untuk menguji atau mengukur temuannya | Fenomena belum dipahami atau instrumennya belum ada |
Selain itu, ada desain kompleks yang menempatkan desain inti di dalam kerangka yang lebih besar, misalnya eksperimen atau intervensi, studi kasus, evaluasi program, dan penelitian partisipatoris. Jika pembimbing memakai istilah dari edisi lama, concurrent triangulation kira-kira setara dengan desain konvergen, sedangkan embedded design termasuk desain kompleks — misalnya wawancara yang disisipkan dalam sebuah eksperimen.
Mixed method membutuhkan waktu, data, dan kemampuan analisis dua kali lipat. Untuk skripsi S1, desain sekuensial eksplanatori biasanya paling realistis karena fase kualitatifnya bisa dibatasi pada sedikit informan yang dipilih dari hasil survei.
Satu Topik, Tiga Pendekatan
Bayangkan seorang mahasiswa psikologi ingin meneliti stres akademik mahasiswa tingkat akhir. Contoh ini ilustrasi untuk menunjukkan bagaimana pendekatan mengubah pertanyaan dan hasilnya:
- Kuantitatif: ia mengadaptasi skala stres akademik yang sudah divalidasi — bukan skala stres umum — dan menyebarkannya ke 150 mahasiswa tingkat akhir. Ia menguji apakah beban SKS berhubungan dengan skor stres dan apakah ada perbedaan skor antara mahasiswa yang bekerja dan yang tidak. Hasilnya berupa koefisien korelasi, nilai p, dan kesimpulan yang berlaku untuk populasi sasarannya bila sampelnya diambil secara acak.
- Kualitatif: ia mewawancarai mahasiswa tingkat akhir secara mendalam, masing-masing 60–90 menit, sampai data jenuh. Ia menggali apa arti "stres" bagi mereka, bagaimana stres itu dirasakan, strategi apa yang mereka pakai, dan bagian proses skripsi mana yang paling menekan. Hasilnya berupa tema-tema yang kaya deskripsi.
- Mixed method (sekuensial eksplanatori): ia menyebarkan kuesioner lebih dulu, lalu memilih mahasiswa dengan skor stres tertinggi dan terendah untuk diwawancarai. Wawancara itu menjelaskan mengapa sebagian mahasiswa sangat tertekan sementara yang lain tidak, sehingga angka survei mendapat penjelasan yang konkret.
Satu topik, tiga pendekatan — tetapi rumusan masalah, kedalaman jawaban, dan klaim yang boleh dibuat sangat berbeda.
Contoh Judul Kuantitatif dan Kualitatif per Jurusan
Judul berikut fiktif dan dibuat untuk menunjukkan perbedaan arah pertanyaannya:
| Jurusan | Judul kuantitatif | Judul kualitatif |
|---|---|---|
| Manajemen | Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Kepuasan Nasabah Bank X Cabang Y | Strategi Retensi Karyawan Generasi Z pada Perusahaan Rintisan X |
| Akuntansi | Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia | Praktik Pencatatan Keuangan pada UMKM Kuliner di Kota X |
| Pendidikan | Pengaruh Model Problem Based Learning terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII | Pengalaman Guru Honorer Mengajar di Sekolah Daerah Terpencil |
| Psikologi | Hubungan Dukungan Sosial dengan Resiliensi Akademik Mahasiswa Tingkat Akhir | Dinamika Penerimaan Diri Mahasiswa dengan Disabilitas Fisik |
| Kesehatan masyarakat | Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas X | Persepsi Ibu terhadap Program Pemberian Makanan Tambahan di Desa X |
| Ilmu komunikasi | Pengaruh Terpaan Iklan Instagram terhadap Minat Beli Mahasiswa | Strategi Komunikasi Krisis Pemerintah Kota X di Media Sosial |
Perhatikan polanya: judul kuantitatif menyebut variabel dan hubungannya ("pengaruh", "hubungan"), sedangkan judul kualitatif menyebut fenomena, proses, atau pengalaman yang digali.
Dampak Pilihan Pendekatan pada Bab 1–5
| Bab | Kuantitatif | Kualitatif |
|---|---|---|
| Bab 1 | Rumusan tertutup dan terukur; batasan berupa variabel | Fokus penelitian dan pertanyaan terbuka |
| Bab 2 | Teori → kerangka berpikir → hipotesis | Teori sebagai lensa dan pembanding; tanpa hipotesis statistik |
| Bab 3 | Populasi, sampel, instrumen, validitas–reliabilitas, uji statistik | Informan, peneliti sebagai instrumen, keabsahan data, analisis interaktif atau tematik |
| Bab 4 | Tabel hasil uji dan pembahasan setiap hipotesis | Tema dan kategori, didukung kutipan informan |
| Bab 5 | Kesimpulan menjawab hipotesis | Kesimpulan menjawab fokus; temuan dapat ditransfer ke konteks serupa |
Cara menulis rumusan untuk masing-masing pendekatan, lengkap dengan contohnya, ada di panduan rumusan masalah, sedangkan bentuk hipotesis untuk penelitian kuantitatif dibahas di panduan merumuskan hipotesis. Kriteria mutu kualitatif pada tabel di atas — kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas — berasal dari Lincoln dan Guba (1985).
Cara Memilih Pendekatan yang Tepat
Langkah 1: Baca Ulang Rumusan Masalah
Pertanyaan "apakah ada pengaruh", "seberapa besar", atau "adakah perbedaan" mengarah ke kuantitatif. Pertanyaan "bagaimana pengalaman", "mengapa", atau "bagaimana proses" mengarah ke kualitatif. Jika Anda perlu mengukur sekaligus menjelaskan, pertimbangkan mixed method.
Langkah 2: Periksa Ketersediaan Data
Tanyakan apakah responden cukup banyak dan terjangkau untuk survei, apakah Anda bisa mewawancarai informan kunci secara mendalam, apakah tersedia data sekunder seperti data BPS atau laporan keuangan, dan apakah sudah ada instrumen tervalidasi untuk variabel Anda.
Langkah 3: Pelajari Tradisi Bidang Anda
Lihat jurnal utama di bidang Anda. Banyak skripsi akuntansi dan keuangan memakai data sekunder kuantitatif, antropologi bertumpu pada etnografi, sedangkan pendidikan, kesehatan masyarakat, dan komunikasi memakai keduanya. Mahasiswa pendidikan juga dapat memilih PTK atau R&D, yang dibahas di panduan metode penelitian skripsi pendidikan.
Langkah 4: Diskusikan dengan Dosen Pembimbing
Pembimbing dapat menilai kesesuaian metode dengan topik di bidangnya, dan sebagian pembimbing memiliki preferensi metodologis tertentu. Mengetahuinya sejak awal menghindarkan Anda dari revisi besar di tengah penelitian.
Langkah 5: Jujur terhadap Kemampuan Anda
Nilai kesiapan Anda menjalankan analisis statistik dengan SPSS, R, atau SmartPLS, atau melakukan wawancara mendalam dan menganalisis transkrip. Untuk mixed method, pastikan waktu Anda cukup untuk dua fase pengumpulan data.
Kesalahan Umum dalam Memilih Pendekatan
- Memilih kuantitatif karena dianggap "lebih ilmiah". Penelitian kualitatif yang dijalankan dengan rigor memiliki nilai ilmiah yang setara; hanya kriteria mutunya yang berbeda.
- Memilih kualitatif untuk menghindari statistik. Jika rumusan Anda mengukur dan menguji hubungan, pendekatan kualitatif tidak akan menjawabnya, dan penguji akan mempertanyakan kesesuaiannya.
- Menjalankan mixed method setengah hati. Dua fase yang sama-sama dangkal lebih lemah daripada satu pendekatan yang dijalankan dengan baik.
- Teknik analisis tidak sesuai pendekatan. Data kuesioner kuantitatif hanya dinarasikan tanpa uji statistik, atau frekuensi tema kualitatif diperlakukan seolah-olah data statistik.
- Label desain bertentangan dengan tekniknya. Penelitian disebut fenomenologi, tetapi datanya berasal dari kuesioner tertutup.
- Mengganti pendekatan setelah data terkumpul tanpa alasan metodologis dan persetujuan pembimbing.
Langkah Berikutnya
Setelah pendekatan dipilih, tuliskan alasannya dalam satu paragraf yang merujuk langsung ke rumusan masalah, karena penguji sering memulai pertanyaan dari sana. Sesuaikan juga istilah di setiap bab: variabel dan hipotesis untuk kuantitatif, fokus dan informan untuk kualitatif. Jika Anda memilih mixed method, gambarkan urutan fasenya dan titik penggabungan datanya sejak proposal. Jika Anda masih ragu, bimbingan metodologi Jokify membantu Anda menimbang pendekatan dan desain berdasarkan rumusan masalah, data yang tersedia, dan kemampuan analisis Anda; keputusan tetap di tangan Anda, sehingga Anda memahami alasannya dan siap mempertahankannya saat sidang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah penelitian kualitatif lebih mudah daripada kuantitatif?
Tidak. Kualitatif memang tidak menuntut statistik, tetapi menuntut keterampilan wawancara, observasi, transkripsi, dan analisis data teks yang memakan waktu. Banyak mahasiswa justru kesulitan di tahap analisis kualitatif karena tidak ada "angka akhir" yang otomatis menjawab rumusan. Pilih berdasarkan rumusan masalah, bukan anggapan mudah atau sulit.
Berapa jumlah informan minimal dalam penelitian kualitatif?
Tidak ada angka minimal yang baku, karena jumlah informan ditentukan oleh saturasi data. Tinjauan sistematis Hennink dan Kaiser (2022) menemukan saturasi umumnya tercapai pada 9–17 wawancara atau 4–8 diskusi kelompok terarah, terutama pada populasi yang homogen dengan tujuan yang sempit. Tulis rencana awal jumlah informan di proposal, lalu laporkan kapan saturasi tercapai.
Bolehkah skripsi kualitatif memakai kuesioner?
Boleh sebagai data pendukung, misalnya kuesioner terbuka untuk menyaring calon informan atau mengumpulkan data latar. Namun, kuesioner tertutup berskala Likert yang dianalisis secara statistik termasuk data kuantitatif. Jika kedua jenis data sama-sama menjadi dasar kesimpulan, rancang penelitian Anda sebagai mixed method.
Apakah penelitian kuantitatif selalu butuh sampel besar?
Tidak ada batas "minimal 30" yang berlaku untuk semua kasus; ukuran sampel bergantung pada teknik analisis, besar efek yang ingin dideteksi, dan teknik sampling. Sebagai gambaran, G*Power memberi 77 responden untuk regresi dengan tiga prediktor pada f² = 0,15, α = 0,05, dan power 0,80 (Faul et al., 2009). Cara menghitungnya dibahas di panduan cara menghitung ukuran sampel.
Apakah PTK termasuk penelitian kuantitatif atau kualitatif?
Penelitian tindakan kelas (PTK) biasanya diperlakukan sebagai desain tersendiri, yaitu penelitian tindakan yang berlangsung dalam siklus perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Datanya sering gabungan, misalnya nilai tes yang dianalisis secara deskriptif dan catatan observasi yang dianalisis secara kualitatif. Ikuti istilah dan format yang dipakai pedoman fakultas Anda.
Referensi
- Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE.
- Creswell, J. W., & Plano Clark, V. L. (2018). Designing and conducting mixed methods research (3rd ed.). SAGE.
- Faul, F., Erdfelder, E., Buchner, A., & Lang, A.-G. (2009). Statistical power analyses using G*Power 3.1: Tests for correlation and regression analyses. Behavior Research Methods, 41(4), 1149–1160. https://doi.org/10.3758/BRM.41.4.1149
- Hennink, M., & Kaiser, B. N. (2022). Sample sizes for saturation in qualitative research: A systematic review of empirical tests. Social Science & Medicine, 292, 114523. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2021.114523
- Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. SAGE.
- Sandelowski, M. (2000). Whatever happened to qualitative description? Research in Nursing & Health, 23(4), 334–340. https://doi.org/10.1002/1098-240X(200008)23:4%3C334::AID-NUR9%3E3.0.CO;2-G
- Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.


