› Panduan Tugas Akhir
Cara Membuat Rumusan Masalah Skripsi dan 12 Contohnya
Tim Editor Metodologi Jokify · Terbit · Diperbarui

Rumusan masalah adalah pertanyaan penelitian yang akan dijawab skripsi Anda — lebih sempit dari topik umum dan lebih tajam dari judul. Rumusan yang baik ditulis sebagai kalimat tanya, menyebut variabel atau fenomena, subjek, dan konteksnya, serta dapat dijawab dengan metode yang Anda pilih. Artikel ini membahas jenis-jenisnya, satu contoh lengkap dari fenomena sampai hipotesis, dan 12 contoh beranotasi dari berbagai jurusan; posisinya di antara subbab lain dijelaskan di panduan Bab 1.
Langkah Singkat Membuat Rumusan Masalah
- Tulis fenomena dan data yang menunjukkan masalah: kondisi ideal dibandingkan kondisi nyata.
- Baca penelitian terdahulu untuk menemukan apa yang belum terjawab.
- Daftar semua masalah yang muncul (identifikasi), lalu pilih yang akan diteliti (batasan).
- Tentukan jenis pertanyaannya: deskriptif, komparatif, atau asosiatif — atau pertanyaan terbuka untuk penelitian kualitatif.
- Tulis kalimat tanya yang menyebut variabel atau fenomena, subjek, tempat, dan waktu.
- Pasangkan setiap rumusan dengan tujuan, hipotesis (untuk penelitian kuantitatif), dan teknik analisis.
- Uji dengan kriteria FINER, lalu diskusikan dua alternatif rumusan dengan pembimbing.
Identifikasi, Batasan, dan Rumusan Masalah
Ketiga subbab ini sering tertukar, padahal bentuk dan fungsinya berbeda. Latar belakang memaparkan fenomena dan celah penelitian; ketiga subbab ini lalu menyaringnya menjadi pertanyaan.
| Subbab | Bentuk | Fungsi |
|---|---|---|
| Identifikasi masalah | Daftar pernyataan | Memetakan semua masalah yang muncul dari latar belakang |
| Batasan masalah | Pernyataan cakupan | Memilih masalah, variabel, subjek, lokasi, dan waktu yang benar-benar diteliti |
| Rumusan masalah | Kalimat tanya | Menanyakan hal yang akan dijawab dengan data |
Tidak semua kampus meminta identifikasi dan batasan masalah sebagai subbab tersendiri, tetapi proses menyaringnya tetap Anda lakukan sebelum menulis rumusan.
Tiga Jenis Rumusan Masalah Menurut Sugiyono
Sugiyono (2019) membagi bentuk rumusan masalah penelitian kuantitatif menjadi tiga:
| Jenis | Ciri | Pola kalimat |
|---|---|---|
| Deskriptif | Satu variabel berdiri sendiri, tanpa perbandingan atau hubungan | "Bagaimana…?" atau "Seberapa tinggi…?" |
| Komparatif | Membandingkan variabel pada sampel atau waktu yang berbeda | "Adakah perbedaan … antara … dan …?" |
| Asosiatif | Hubungan dua variabel atau lebih: simetris, kausal, atau interaktif | "Adakah hubungan antara … dan …?", "Apakah … berpengaruh terhadap …?", "Seberapa besar pengaruh … terhadap …?" |
Dua aturan bahasa membuat rumusan Anda lebih tajam:
- "Bagaimana" untuk pertanyaan deskriptif atau kualitatif. Untuk menguji pengaruh, tulis "Apakah X berpengaruh terhadap Y?" atau "Seberapa besar pengaruh X terhadap Y?", bukan "Bagaimana pengaruh X terhadap Y?" yang membuat jenis pertanyaannya kabur.
- Jangan menaruh kata "signifikan" di rumusan. Signifikan atau tidak adalah hasil uji yang ditentukan data. Tulis "pengaruh X terhadap Y", bukan "pengaruh yang signifikan antara X terhadap Y" — pasangan kata yang benar adalah "antara … dan …" atau "X terhadap Y".
Pada penelitian kualitatif, rumusan masalah masih bersifat sementara dan dapat berkembang setelah peneliti berada di lapangan (Sugiyono, 2019). Creswell dan Creswell (2018) menyarankan satu pertanyaan utama yang terbuka, lalu beberapa subpertanyaan yang memakai kata kerja eksploratif seperti memahami, menggali, atau mendeskripsikan.
Contoh Lengkap dari Fenomena sampai Hipotesis
Contoh berikut fiktif dan menunjukkan rantai yang diperiksa pembimbing: fenomena → judul → identifikasi → batasan → rumusan → tujuan → hipotesis.
| Tahap | Isi pada contoh |
|---|---|
| Fenomena | Dosen wali di Universitas X mendapati banyak mahasiswa memakai layanan paylater untuk belanja daring, dan sebagian kesulitan membayar cicilan |
| Judul sementara | Pengaruh Literasi Keuangan dan Kontrol Diri terhadap Perilaku Konsumtif Mahasiswa Pengguna Paylater di Universitas X |
| Identifikasi masalah | Belanja daring impulsif; cicilan yang menunggak; literasi keuangan dan kontrol diri mahasiswa belum terpetakan; promosi diskon di aplikasi belanja |
| Batasan masalah | Literasi keuangan (X1), kontrol diri (X2), dan perilaku konsumtif (Y) pada mahasiswa aktif S1 Universitas X yang memakai paylater minimal sekali dalam enam bulan terakhir; promosi aplikasi tidak diteliti |
Dari batasan itu lahir empat rumusan masalah:
- Seberapa tinggi perilaku konsumtif mahasiswa pengguna paylater di Universitas X?
- Apakah literasi keuangan berpengaruh terhadap perilaku konsumtif mahasiswa pengguna paylater di Universitas X?
- Apakah kontrol diri berpengaruh terhadap perilaku konsumtif mahasiswa pengguna paylater di Universitas X?
- Apakah literasi keuangan dan kontrol diri secara simultan berpengaruh terhadap perilaku konsumtif mahasiswa pengguna paylater di Universitas X?
Setiap rumusan lalu mendapat pasangan tujuan dan, bila perlu, hipotesis:
| Rumusan | Tujuan | Hipotesis |
|---|---|---|
| 1 (deskriptif) | Mendeskripsikan tingkat perilaku konsumtif mahasiswa pengguna paylater | Tidak diperlukan |
| 2 (asosiatif) | Menguji pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku konsumtif | H1: literasi keuangan berpengaruh negatif terhadap perilaku konsumtif |
| 3 (asosiatif) | Menguji pengaruh kontrol diri terhadap perilaku konsumtif | H2: kontrol diri berpengaruh negatif terhadap perilaku konsumtif |
| 4 (asosiatif) | Menguji pengaruh simultan literasi keuangan dan kontrol diri | H3: literasi keuangan dan kontrol diri secara simultan berpengaruh terhadap perilaku konsumtif |
Arah negatif pada H1 dan H2 harus didasarkan pada teori dan penelitian terdahulu di Bab 2, bukan tebakan. Notasi statistiknya dan aturan mengujinya dibahas di panduan cara merumuskan hipotesis penelitian. Rumusan yang sama juga menentukan Bab 3: rumusan 1 dijawab dengan statistik deskriptif, sedangkan rumusan 2–4 dengan regresi linier berganda — susunan lengkapnya ada di panduan Bab 3 metode penelitian.
Contoh Rumusan Masalah Kuantitatif per Jurusan
Semua contoh di bawah fiktif dan disertai catatan mengapa rumusannya bekerja. Sesuaikan dengan penelitian Anda — jangan disalin mentah.
Manajemen dan Akuntansi
- "Apakah beban kerja dan kompensasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan bagian produksi PT X di Kabupaten Y?" Asosiatif kausal dengan dua variabel bebas yang biasanya dijawab dengan regresi linier berganda. Versi yang sering muncul, "Bagaimana pengaruh beban kerja dan kompensasi…?", kabur karena kata "bagaimana" menandai pertanyaan deskriptif.
- "Apakah profitabilitas dan struktur modal berpengaruh terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021–2024?" Asosiatif kausal dengan data sekunder dari laporan keuangan. Sektor dan periode yang jelas menentukan jumlah observasi, dan analisis yang lazim adalah regresi data panel.
Pendidikan dan Psikologi
- "Adakah perbedaan hasil belajar matematika antara siswa kelas VIII SMP Negeri X yang belajar dengan model problem based learning dan siswa yang belajar dengan metode ceramah?" Komparatif dalam desain kuasi-eksperimen. Kedua kelompok dan perlakuannya disebut eksplisit, sehingga teknik analisisnya jelas, misalnya uji t, atau ANCOVA bila ada nilai pretes.
- "Adakah hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dan resiliensi akademik mahasiswa tingkat akhir Universitas X?" Asosiatif simetris: pertanyaannya tentang hubungan tanpa mengklaim arah sebab-akibat, sehingga cocok dijawab dengan analisis korelasi.
Kesehatan dan Ekonomi
- "Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas X?" Asosiatif dengan desain analitik potong lintang. Bila kedua variabel dikategorikan, misalnya pengetahuan baik/kurang dan status gizi baik/kurang, analisis yang lazim adalah uji chi-square.
- "Apakah upah minimum dan investasi berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja di kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah tahun 2019–2024?" Asosiatif kausal berbasis data sekunder. Unit analisis (kabupaten/kota) dan rentang tahunnya sudah menentukan bentuk data panel sejak di rumusan.
- "Seberapa tinggi tingkat literasi keuangan syariah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN X?" Deskriptif satu variabel. Jawabannya berupa statistik deskriptif dan kategori skor, tanpa uji hipotesis.
Contoh Rumusan Masalah Kualitatif dan Nonsurvei
Penelitian kualitatif memakai pertanyaan terbuka yang menggali makna, proses, atau alasan, biasanya berupa satu pertanyaan utama yang dijabarkan menjadi beberapa subpertanyaan. Beberapa kampus menuliskannya sebagai fokus penelitian. Perbedaan konsekuensinya untuk tiap bab dibahas di artikel penelitian kuantitatif vs kualitatif.
Komunikasi, Sosiologi, dan Manajemen
- "Bagaimana mahasiswa perantau di Yogyakarta memaknai konten bertema kampung halaman di TikTok?" Pertanyaan tentang makna yang cocok untuk fenomenologi atau analisis resepsi. Tidak ada variabel yang diukur; yang digali adalah pengalaman informan.
- "Bagaimana strategi pedagang Pasar X bertahan menghadapi persaingan toko daring?" dengan subpertanyaan "Perubahan apa yang mereka lakukan pada cara berjualan?" dan "Siapa saja yang terlibat dalam keputusan itu?" Bentuk studi kasus; subpertanyaannya langsung bisa diturunkan menjadi pedoman wawancara.
- "Mengapa pelaku UMKM batik di Kampung X belum memakai pembukuan digital meskipun telah mengikuti pelatihan?" Kata "mengapa" menggali alasan, sehingga jawabannya berupa tema dari wawancara dan observasi, bukan persentase.
Hukum dan Teknik Informatika
- "Bagaimana kewajiban pengendali data pribadi ketika terjadi kegagalan pelindungan data pribadi menurut Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022?" Penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan; datanya berupa bahan hukum, bukan jawaban responden.
- "Bagaimana merancang aplikasi web pemesanan ruang rapat untuk Fakultas X, dan seberapa tinggi tingkat kebergunaannya menurut System Usability Scale?" Rumusan rancang bangun yang dipasangkan dengan evaluasi terukur, sehingga hasil skripsi tidak berhenti pada "aplikasi berhasil dibuat".
Cek Kualitas Rumusan dengan Kriteria FINER
Kriteria FINER berasal dari Hulley et al. (2013) dan banyak dipakai untuk menilai pertanyaan penelitian sebelum diajukan:
- Feasible (layak): data, waktu, biaya, dan kemampuan analisis Anda cukup untuk menjawabnya.
- Interesting (menarik): jawabannya penting bagi Anda dan bidang ilmu Anda.
- Novel (baru): mengonfirmasi, membantah, atau memperluas temuan sebelumnya.
- Ethical (etis): dapat diteliti tanpa merugikan responden atau informan.
- Relevant (relevan): hasilnya berguna bagi ilmu, praktik, atau penelitian berikutnya.
Setelah lolos FINER, cek tiga hal teknis: variabel atau fenomena, subjek, tempat, dan waktunya disebut dengan jelas; setiap rumusan punya pasangan tujuan dan teknik analisis; dan istilahnya identik dengan judul.
Kesalahan Umum yang Sering Dicoret Pembimbing
- Terlalu luas. "Apa pengaruh media sosial?" tidak menyebut variabel, subjek, tempat, maupun waktu.
- Tidak dapat diuji. Pertanyaan normatif ("Seharusnya bagaimana…?") atau filosofis tidak bisa dijawab dengan data skripsi.
- Jenis pertanyaan kabur. "Bagaimana pengaruh…?" dipakai untuk penelitian yang sebenarnya menguji pengaruh.
- Hasil uji ditaruh di pertanyaan. Kata "signifikan" di rumusan mendahului data.
- Konteks hilang pada model yang rumit. Rumusan mediasi juga perlu subjek dan tempat, misalnya "Apakah kepuasan kerja memediasi pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap kinerja perawat di RSUD X?"
- Terlalu banyak rumusan. Untuk skripsi S1, dua sampai empat rumusan biasanya cukup; lebih dari itu sering membuat penelitian melebar.
- Rumusan tanpa pasangan. Ada rumusan yang tidak punya tujuan, hipotesis, atau teknik analisis — biasanya rumusan deskriptif yang lupa dianalisis.
Langkah Berikutnya
Begitu rumusan disepakati pembimbing, cari teori yang menjelaskan hubungan antarvariabelnya — langkahnya ada di panduan kerangka teori. Tulis ulang latar belakang agar setiap paragrafnya mengarah ke rumusan yang baru, lalu periksa kembali tujuan dan judul supaya istilahnya identik. Simpan juga versi rumusan sebelumnya beserta catatan pembimbing; catatan ini berguna saat Anda menjelaskan perubahan di seminar proposal. Jika Anda ingin rumusan masalah diperiksa sebelum diajukan, bimbingan Bab 1 Jokify mereview ketajaman rumusan, kesesuaiannya dengan judul dan metode, serta alur latar belakangnya; Anda tetap merumuskan dan merevisi sendiri, sehingga memahami setiap pilihan dan siap mempertahankannya saat seminar proposal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah rumusan masalah harus berupa kalimat tanya?
Sebagian besar pedoman skripsi di Indonesia meminta rumusan masalah dalam bentuk kalimat tanya karena lebih mudah dipasangkan dengan tujuan dan teknik analisis. Ada juga kampus yang menerima pernyataan masalah (problem statement) diikuti pertanyaan penelitian. Ikuti format yang tertulis di pedoman fakultas Anda.
Apakah setiap rumusan masalah harus punya hipotesis?
Tidak. Rumusan komparatif dan asosiatif pada penelitian kuantitatif biasanya diikuti hipotesis, sedangkan rumusan deskriptif umumnya tidak, kecuali Anda menguji dugaan terhadap nilai tertentu. Penelitian kualitatif juga tidak memakai hipotesis yang diuji secara statistik.
Apa beda rumusan masalah dan pertanyaan penelitian?
Di banyak kampus kedua istilah dipakai bergantian untuk kalimat tanya yang akan dijawab skripsi. Kampus lain memisahkan pernyataan masalah (uraian singkat tentang masalahnya) dari pertanyaan penelitian (kalimat tanyanya). Apa pun istilahnya, isinya harus spesifik, dapat dijawab dengan data, dan selaras dengan tujuan.
Apakah judul skripsi harus sama persis dengan rumusan masalah?
Kalimatnya tidak harus sama, tetapi variabel atau fenomena, subjek, dan tempat yang disebut harus konsisten. Judul merangkum penelitian dalam satu frasa, sedangkan rumusan memecahnya menjadi pertanyaan yang bisa dijawab satu per satu. Jika salah satunya berubah, sesuaikan yang lain.
Bolehkah rumusan masalah diubah setelah seminar proposal?
Boleh, terutama bila penguji memberi masukan, asalkan perubahan disetujui pembimbing. Setelah rumusan berubah, sesuaikan juga tujuan, hipotesis, kerangka berpikir, dan teknik analisis di Bab 3 agar seluruh skripsi tetap konsisten.
Referensi
- Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE.
- Hulley, S. B., Cummings, S. R., Browner, W. S., Grady, D. G., & Newman, T. B. (2013). Designing clinical research (4th ed.). Lippincott Williams & Wilkins.
- Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.


