Jokify

Publikasi Jurnal

Memahami Jurnal Scopus dan Kuartil Q1-Q4 untuk Mahasiswa

Tim Spesialis Publikasi Jokify · Terbit 9 Juni 2026

Memahami Jurnal Scopus dan Kuartil Q1-Q4 untuk Mahasiswa

Dalam percakapan akademik, terutama di kalangan dosen dan mahasiswa pascasarjana, istilah "Scopus Q1" atau "jurnal Q2" kerap terdengar. Namun, tidak semua orang paham apa artinya secara konkret — apalagi bagaimana bedanya dengan peringkat SINTA yang lebih familiar di lingkungan kampus Indonesia. Artikel ini membantu Anda memahami ekosistem Scopus dan sistem kuartil dari sudut pandang yang praktis.

Apa Itu Scopus?

Scopus adalah database bibliografi multidisiplin yang dikelola oleh Elsevier, salah satu penerbit akademik terbesar di dunia. Scopus mengindeks jurnal-jurnal ilmiah dari berbagai negara yang telah memenuhi standar kualitas editorial tertentu.

Ketika sebuah jurnal "terindeks Scopus", artinya:

  • Jurnal tersebut telah melalui evaluasi ketat oleh Scopus Content Selection & Advisory Board (CSAB)
  • Artikel-artikel di dalamnya dapat ditemukan dan disitasi oleh peneliti di seluruh dunia
  • Jurnal tersebut memiliki rekam jejak penerbitan yang konsisten dan berkualitas

Bagi peneliti internasional, terindeks Scopus adalah penanda kualitas yang sangat diperhitungkan.

Mengenal CiteScore dan SJR: Dasar Sistem Kuartil

Sistem kuartil (Q1-Q4) pada Scopus didasarkan pada dua metrik utama:

CiteScore

Mengukur rata-rata sitasi yang diterima artikel dalam jurnal tersebut selama empat tahun terakhir. Semakin tinggi CiteScore, semakin banyak artikel dari jurnal tersebut yang dikutip oleh peneliti lain — menandakan dampak ilmiah yang kuat.

SJR (SCImago Journal Rank)

Mengukur prestise jurnal berdasarkan kualitas sitasi, bukan hanya kuantitasnya. Sitasi dari jurnal-jurnal bergengsi lain akan memberi bobot lebih tinggi pada SJR sebuah jurnal.

Kedua metrik ini digunakan oleh SCImago Journal & Country Rank (SJR) — platform yang paling umum digunakan untuk melihat peringkat kuartil jurnal Scopus. Anda bisa mengaksesnya di scimagojr.com.

Penjelasan Kuartil Q1, Q2, Q3, dan Q4

Setiap jurnal Scopus ditempatkan dalam kategori bidang ilmu tertentu (subject category). Di dalam setiap kategori, jurnal-jurnal diurutkan berdasarkan nilai SJR, lalu dibagi menjadi empat kuartil yang masing-masing berisi 25% dari total jurnal:

Q1 — Kuartil Pertama (25% Teratas)

  • Jurnal-jurnal paling berpengaruh di bidangnya
  • CiteScore dan SJR tertinggi dalam kategorinya
  • Standar peer review sangat ketat
  • Waktu review bisa sangat panjang (3-12 bulan atau lebih)
  • Tingkat penerimaan (acceptance rate) seringkali di bawah 20%

Q2 — Kuartil Kedua

  • Jurnal berkualitas tinggi, satu tingkat di bawah Q1
  • Masih sangat bergengsi dan diakui secara internasional
  • Acceptance rate lebih baik dari Q1, namun standar tetap tinggi
  • Banyak jurnal internasional dari Asia Tenggara berada di kategori ini

Q3 — Kuartil Ketiga

  • Jurnal yang sudah cukup mapan dan diakui
  • Acceptance rate lebih tinggi
  • Baik untuk peneliti yang sedang membangun portofolio publikasi internasional

Q4 — Kuartil Keempat (25% Terbawah dari Scopus)

  • Jurnal yang baru saja masuk Scopus atau masih membangun reputasi
  • Meski berada di kuartil terbawah Scopus, tetap merupakan jurnal internasional yang terindeks
  • Merupakan titik masuk yang realistis bagi penulis pemula di level internasional

Poin penting: Bahkan Q4 Scopus sudah merupakan pencapaian luar biasa untuk mahasiswa S1 atau S2. Jangan meremehkan kuartil terbawah Scopus — jurnal ini tetap melalui proses seleksi internasional yang ketat.

Scopus vs. SINTA: Apa Bedanya?

Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul. Berikut perbandingan sederhananya:

AspekScopusSINTA
PengelolaElsevier (internasional)Kemdikbudristek (nasional)
CakupanJurnal dari seluruh duniaJurnal Indonesia
Sistem penilaianKuartil Q1-Q4 (berbasis SJR/CiteScore)Peringkat S1-S6
BahasaDominan InggrisIndonesia dan Inggris
KeterkaitanJurnal Scopus otomatis masuk SINTA 1 atau 2Tidak otomatis masuk Scopus

Dengan kata lain, Scopus dan SINTA bukan sistem yang bersaing — keduanya saling melengkapi. Jurnal Indonesia yang berhasil masuk Scopus akan mendapat pengakuan ganda: di level nasional (SINTA 1/2) dan internasional.

Jurnal Scopus dari Indonesia: Sudah Banyak?

Ya, dan jumlahnya terus bertambah. Beberapa jurnal dari universitas-universitas besar Indonesia sudah terindeks Scopus dan berada di kuartil Q2-Q4. Anda bisa menemukannya dengan melakukan pencarian di SCImago berdasarkan negara: Indonesia.

Jika topik penelitian Anda spesifik dan sangat relevan dengan bidang yang ditekuni sebuah jurnal Indonesia berindeks Scopus, peluang Anda untuk diterima bisa lebih baik dibanding mencoba jurnal asing.

Ekspektasi Realistis: Berapa Lama Prosesnya?

Ini adalah bagian yang paling sering tidak diantisipasi oleh penulis pemula:

  • Initial review (desk rejection): 1-4 minggu. Editor pertama-tama memeriksa apakah naskah sesuai scope dan memenuhi standar dasar sebelum dikirim ke reviewer.
  • Peer review: 1-6 bulan, tergantung jurnal dan ketersediaan reviewer.
  • Revisi dan resubmission: Bisa berlangsung 1-3 putaran, masing-masing memakan waktu berminggu-minggu.
  • Accepted to published: Setelah diterima, bisa butuh 1-12 bulan sebelum artikel benar-benar terbit (tergantung antrean editorial jurnal).

Total waktu realistis: Dari submit hingga terbit, hitungan 6-18 bulan adalah hal yang normal untuk jurnal Scopus. Perencanaan yang matang dan jauh-jauh hari sangat krusial.

Tips Praktis untuk Menargetkan Jurnal Scopus

Sebelum submit:

  • Gunakan SCImago untuk mencari jurnal yang sesuai dengan bidang dan target kuartil Anda
  • Baca author guidelines dengan teliti — format, panjang artikel, gaya sitasi
  • Persiapkan abstrak yang kuat — editor sering memutuskan nasib naskah dari abstrak saja
  • Pastikan metodologi solid — jurnal Scopus sangat ketat soal rigor metodologi
  • Cek apakah jurnal ber-OA (Open Access) atau subscription — ini memengaruhi biaya APC

Saat dan setelah submit:

  • Pantau status submission secara berkala di editorial system jurnal
  • Jika belum ada kabar setelah 3 bulan, kirim email sopan ke editor untuk menanyakan status
  • Tanggapi komentar reviewer secara sistematis dan profesional

Apakah Mahasiswa S1 Perlu Menargetkan Scopus?

Jujurnya: tidak wajib, kecuali program studi Anda mensyaratkannya secara eksplisit. Bagi sebagian besar mahasiswa S1, publikasi di jurnal SINTA 3 atau 4 sudah sangat baik dan lebih realistis secara waktu maupun kemampuan.

Namun, jika Anda memiliki hasil riset yang kuat, bimbingan dari dosen yang berpengalaman, dan waktu yang cukup, mencoba jurnal Scopus Q3 atau Q4 adalah pilihan yang sangat berharga — terutama jika Anda berencana melanjutkan ke jenjang S2 atau karier di dunia riset.

Memahami ekosistem Scopus dan SINTA secara bersamaan akan memberi Anda gambaran yang lebih utuh tentang lanskap publikasi ilmiah. Jika Anda sedang mempertimbangkan target publikasi yang tepat dan ingin mendapat pendampingan dalam proses penulisan serta persiapan naskah, Jokify menyediakan layanan publikasi jurnal SINTA yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan akademik Anda.

› terima konsultasi 24/7

Saatnya lulus tepat waktu.

Chat WhatsApp untuk konsultasi gratis. Kasih info: jurusan + kampus + bab/topik tugas. Kami balas estimasi harga & timeline dalam <24 jam.